Thursday, November 15, 2018

Liverpool Sukses Bukan Karena Formasi Serang, Tapi Insting

Liverpool Sukses Bukan Gegara Formasi Serang, Tapi Insting

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, menolak membahas formasi serang mematikan yang dimilikinya, dan mengatakan kesuksesan timnya karena insting para pemain.
Pada musim ini, Liverpool kerap berganti-ganti formasi skuad. The Reds gunakan pola 4-2-3-1 saat menang atas Fulham, dan pola 4-3-3 saat ditekuk Red Star Belgrade 2-0. Namun, Jurgen Klopp mengaku ia tak memusingkan hal itu.
“Kami sering mempraktikkan [formasi 4-2-3-1]. Kami tidak hanya terapkan formasi tersebut saat pertama kali saya tiba,” tambahnya.
“Tapi ini bukan soal sistem yang dipakai, ini soal para pemain. Tugas saya, tempatkan para pemain di posisi terbaiknya sehingga bisa membantu tim sebaik mungkin,” ujar Jurgen Klopp.

Tak Terpaku pada Sistem

“Jika saya bisa melakukannya dengan sistem maka saya akan melakukannya. Namun bukan berarti kami akan menjalani setiap pekan [terpaku pada sistem]. Kami harus sangat kreatif dengan hal-hal tersebut sebab pada akhirnya para pemain-lah yang harus bermain [dengan instingnya],” tegasnya.
Jurgen Klopp juga mengaku tidak merasakan tekanan, meski Liverpool menjadi salah satu favorit meraih gelar juara Liga Inggris musim ini. The Reds menjadi satu dari tiga tim yang belum pernah kalah, tapi sempat dua kali takluk di pentas Liga Champions dan Piala Liga.
Dengan posisi diapit Manchester City dan Chelsea serta berselisih dua poin di bawah dan di atas dua tim tersebut, Liverpool disebut menjadi rival terkuat dalam mendongkel dominasi The Citizens musim ini.

Tak Rasakan Tekanan di Liverpool

Ditanya soal perasaannya mendapat tekanan untuk meraih kesuksesan di Liga Inggris dan Liga Champions, Jurgen Klopp mengaku tak merasa tekanan semacam itu. “Saya tidak merasakan tekanan. Seperti itulah yang saya rasakan,” kata Klopp pada Premier League Productions.
“Sejak dulu saya sudah membuat keputusan untuk diri saya sendiri: untuk habis-habisan memberikan semua yang saya miliki. Saya tidak setengah-setengah. Pada momen seperti ini, saya tidak bisa meraih hasil yang lebih baik lagi,” tambah Klopp.
“Saya menuntut tinggi pada diri saya sendiri tapi tidak merasakan tekanan. Kami ingin memenangi setiap laga dan jika gagal, maka kami ingin memenangi laga berikutnya. Sedangkan untuk keputusan-keputusan lainnya, seperti bagaimana masyarakat melihat saya dan apa yang mereka pikirkan tentang saya, saya tidak peduli sebab saya tidak bisa mempengaruhinya,” ujarnya.
“Selama kami bisa memenangi laga-laga, semua orang akan beranggapan saya manajer yang baik, walau andai mereka tidak menyukai saya. Ketika kami kalah, orang-orang yang tidak suka saya dan yang menyukai saya akan berkata ‘Mungkin dia bukan manajer yang tepat lagi’. Seperti itulah adanya. Jika Anda sudah tahu [seperti ini reaksi], bagaimana bisa menjadi sebuah beban di pundak Anda? Saya tidak memahaminya,” tandas pelatih asal Jerman tersebut.

No comments:

Post a Comment